Pondok PSM, sesungguhnya memiliki kisah masa lalu yang sungguh miris dan
memilukan hati. Bagaimana tidak, di kala itu ketika PSM dipimpin oleh Kyai Imam
Mursyid Muttaqien terjadilah peristiwa besar yang hingga sekatang tercatat
sebagai peristiwa paling bersejarah di era pasca kemerdekaan Indonesia, yaitu
peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Awal mula pemberontakan
PKI ini dilancarkan di daerah Madiun pada tahun 1948, yang ketika itu dipimpin
oleh Muso dan Amir Syafrudin. Banyak tokoh-tokoh agama yang ikut menjadi
korban keganasan dan kebiadaban PKI ini. Tak terkecuali PSM, mereka sangat
berduka karena kehilangan satu sosok sesepuh PSM yang paling dihormati oleh
warganya, yaitu Kyai Imam Mursyid Muttaqien.
PKI dengan ideologi sosialis-komunisnya sebenarnya sudah lama menanam rasa
kebencian yang mendalam kepada Islam pada umumnya, dan kepada para ulama dan
kyai pada khususnya. Sebab, mereka itulah yang oleh PKI tergolong sebagai
kelompok yang berusaha menghalangi misi mereka dalam menyebarkan paham
komunisme di Indonesia. Islam sangat membenci komunisme yang bersikap atheis
dan tak adanya peran Tuhan dalam kehidupan manusia. Bagi mereka, Tuhan adalah
akal pikiran mereka, dan oleh sebab kemampuan berpikir merekalah yang
menjadikan mereka berkuasa. Oleh karena itu, umat Islam berupaya keras untuk
membendung aksi komunis yang dilancarkan oleh partai ini karena khawatir aqidah
yang ditanam oleh umat muslim di Indonesia ternodai oleh model pemikiran
komunisme yang anti tuhan.
Pada awalnya, pondok PSM menjadi target pengepungan basis PKI. Menurut
beberapa cerita yang diungkapkan narasumber, dikisahkan bahwa suatu ketika,
pesantren mendapat sebuah kabar tentang munculnya paham komunisme yang tengah
menyebar di Indonesia. Kemudian santri PSM langsung was-was dan siap siaga
untuk menghadapi kemungkinan yang akan timbul. Kebetulan saja, basis pertama
pemberontakan PKI berada di Madiun pada tahun 1948. Sehingga para warga PSM
mengambil inisiatif untuk mengadakan penjagaan rutin (ronda bersama) siang dan
malam dengan membentuk pagar betis di setiap sudut pondok.
Selanjutnya, dengan segera pondok mendapat informasi bahwa PKI sudah
menguasai hampir seluruh wilayah di Madiun dan Magetan. Sedangkan PSM sendiri
berada dalam situasi yang sangat genting dan tidak menentu, karena massa PKI
sudah mengepung PSM dari penjuru sektor. Sektor timur berada di desa Sawojajar
dan Tawangrejo, sektor utara berada di desa Waduk, sektor barat berada di
Goranggareng, dan sektor selatan berada di desa Kenongomulyo. Hal ini bermula
pada kecurigaan para santri terhadap seseorang yang melewati gerbang depan PSM
sebagai penjual minyak tanah (mohon maaf, bagi pembaca yang lebih tahu
kronologis peristiwa ini, disarankan untuk diklarifikasi kembali karena data
yang diperoleh penulis belum valid, -pen). Kebetulan santri tersebut ketika itu
sedang berjaga-jaga, yang pada akhirnya orang tersebut terindikasi sebagai
mata-mata PKI.
Lebih lanjut pula, PSM yang kala itu masih berada pada masa pembaharuan dan
modernisasi yang diprakarsai oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien, menjadi target
sasaran pemberontakan PKI ini. Kyai Imam Mursyid selaku pemimpin dan mursyid
PSM turut menjadi korban keganasan PKI. Alkisah, pada hari jumat 18 september
1948, beliau didatangi oleh para tokoh PKI. Mereka sengaja berkunjung ke PSM
untuk mengajak Kyai Imam Mursyid agar ikut bermusyawarah dalam rangka
pembentukan Republik Soviet Indonesia. Kedatangan mereka disambut rasa cemas
dan khawatir oleh masing-masing santrinya. Entah karena apa, Kyai Imam Mursyid
menyetujui dan bersedia ikut rombongan PKI.
Namun tak disangka sama sekali, kepergian beliau merupakan kepergian untuk
selama-lamanya dan tak akan pernah kembali. Apa yang dikhawatirkan santrinya
benar-benar terbukti. Hingga saat ini, jenazah beliau tidak pernah ditemukan,
walaupun menurut beberapa informasi bahwa para korban PKI teridentifikasi
dibuang di beberapa sumur, seperti sumur yang terletak di desa Soco Kecamatan
Bendo misalnya. Setelah diupayakan sepenuhnya oleh tim pencari korban
kebiadaban PKI dengan membongkar sumur di desa Soco tersebut, namun jenazah
Kyai Imam Mursyid tetap tidak kunjung ditemukan. Dari daftar korban yang telah
ditemukan, ternyata nama Kyai Imam Mursyid Muttaqien tidak tercantum. Hal
inilah yang menyebabkan santri PSM hingga sekarang masih percaya bahwa beliau
kemungkinan masih hidup, namun entah dimana keberadaannya.
Demikianlah kisah, semoga menjadi pelajaran kita semua selaku manusia yang
lemah dan senantiasa mengharap sesuatu kepada Allah agar supaya diberi
ketabahan dan jalan keluar. Amien.